Dalam Bahasa Inggris, kata kerja atau verb tidak selalu digunakan untuk menunjukkan suatu tindakan. Ada juga kata kerja yang digunakan untuk menunjukkan kondisi, perasaan, pikiran, kepemilikan, atau keadaan seseorang maupun sesuatu. Kata kerja seperti ini disebut stative verb.
Stative verb cukup sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Namun, penggunaannya sedikit berbeda dari action verb, terutama ketika digunakan dalam bentuk continuous tense.
Lalu, apa itu stative verb dan apa saja contohnya? Yuk, simak penjelasan berikut agar lebih mudah memahaminya.
Apa Itu Stative Verb?
Stative verb adalah kata kerja yang digunakan untuk menunjukkan suatu keadaan, kondisi, perasaan, pikiran, kepemilikan, atau hubungan, bukan tindakan yang sedang dilakukan.
Sederhananya, stative verb lebih menggambarkan apa yang dirasakan, dipikirkan, dimiliki, atau diketahui seseorang, bukan aktivitas yang sedang dilakukan.
Contohnya:
- I know the answer.
(Saya tahu jawabannya.)
Kata know merupakan stative verb karena menunjukkan keadaan atau pengetahuan seseorang, bukan aktivitas yang dilakukan secara fisik.
Baca juga: Helping Verb Bahasa Inggris: Pengertian dan Contohnya
Apa Perbedaan Stative Verb dan Action Verb?
Cara paling mudah memahami stative verb adalah dengan membandingkannya dengan action verb. Action verb menunjukkan tindakan atau aktivitas yang dilakukan oleh seseorang atau sesuatu. Sementara itu, stative verb menunjukkan kondisi atau keadaan.
Perhatikan contoh berikut:
- I am running.
(Saya sedang berlari.)
Kata running menunjukkan aktivitas yang sedang dilakukan. Jadi, run adalah action verb.
Sementara itu:
- I know the answer.
(Saya tahu jawabannya.)
Kata know menunjukkan keadaan atau pengetahuan, bukan aktivitas. Jadi, know adalah stative verb.
Baca juga: Cara Menyusun Kalimat Bahasa Inggris dengan Benar
Jenis-Jenis Stative Verb
Stative verb dapat digunakan untuk menunjukkan berbagai jenis keadaan. Berikut beberapa jenis yang umum digunakan.
1. Stative Verb untuk Menunjukkan Pikiran dan Pengetahuan
Jenis ini digunakan untuk menunjukkan apa yang seseorang pikirkan, ketahui, pahami, atau ingat. Beberapa contohnya adalah:
- know = mengetahui
- understand = memahami
- believe = percaya
- remember = mengingat
- forget = melupakan
- think = berpikir atau berpendapat
- recognize = mengenali
- realize = menyadari
Contoh:
- I know the answer.
(Saya tahu jawabannya.)
- She understands the lesson.
(Dia memahami pelajaran tersebut.)
- I remember his name.
(Saya ingat namanya.)
- They believe you.
(Mereka percaya kepadamu.)
Kata-kata tersebut menunjukkan kondisi pikiran atau pengetahuan seseorang.
2. Stative Verb untuk Menunjukkan Perasaan dan Emosi
Stative verb juga dapat digunakan untuk menunjukkan perasaan, emosi, kesukaan, atau ketidaksukaan.
Beberapa contohnya adalah:
- like = menyukai
- love = mencintai atau sangat menyukai
- hate = membenci
- prefer = lebih menyukai
- want = menginginkan
- need = membutuhkan
- dislike = tidak menyukai
Contoh:
- I like this song.
(Saya menyukai lagu ini.)
- She loves her cat.
(Dia sangat menyayangi kucingnya.)
- They hate waiting.
(Mereka tidak suka menunggu.)
- He wants a new phone.
(Dia menginginkan ponsel baru.)
Kata like, love, hate, dan want pada contoh tersebut menunjukkan perasaan atau keinginan, bukan aktivitas yang sedang dilakukan.
3. Stative Verb untuk Menunjukkan Kepemilikan
Jenis ini digunakan untuk menunjukkan kepemilikan atau hubungan seseorang dengan sesuatu.
Beberapa contohnya adalah:
- have = memiliki
- own = memiliki
- belong = menjadi milik
- possess = memiliki
Contoh:
- I have a new laptop.
(Saya memiliki laptop baru.)
- She owns a small business.
(Dia memiliki sebuah bisnis kecil.)
- This book belongs to me.
(Buku ini milik saya.)
Pada contoh tersebut, kata have, owns, dan belongs menunjukkan kepemilikan. Namun, perlu diperhatikan bahwa have tidak selalu menjadi stative verb. Artinya dapat berubah tergantung konteks kalimat.
Misalnya:
- I have a car.
(Saya memiliki sebuah mobil.)
Di sini, have menunjukkan kepemilikan.
Sementara:
- I am having lunch.
(Saya sedang makan siang.)
Pada kalimat tersebut, having menunjukkan aktivitas, sehingga have berfungsi sebagai action verb.
Baca juga: Adverb of Frequency dalam Bahasa Inggris: Ketahui Arti & Contohnya
4. Stative Verb untuk Menunjukkan Indra dan Persepsi
Beberapa kata kerja yang berhubungan dengan indra atau persepsi juga dapat menjadi stative verb, terutama ketika menunjukkan bagaimana seseorang merasakan atau mempersepsikan sesuatu.
Contohnya:
- see = melihat
- hear = mendengar
- smell = mencium atau berbau
- taste = merasakan atau terasa
- feel = merasa
Contoh:
- I see a bird in the tree.
(Saya melihat seekor burung di pohon.)
- I hear a strange sound.
(Saya mendengar suara aneh.)
- This soup tastes delicious.
(Sup ini terasa lezat.)
- The flowers smell nice.
(Bunga-bunga itu harum.)
Namun, beberapa kata dalam kelompok ini juga bisa menjadi action verb, tergantung maknanya.
Contohnya:
- The chef is tasting the soup.
(Koki tersebut sedang mencicipi sup.)
Dalam kalimat ini, tasting menunjukkan tindakan yang dilakukan secara sengaja, sehingga taste berfungsi sebagai action verb.
5. Stative Verb untuk Menunjukkan Hubungan atau Kondisi
Beberapa verb digunakan untuk menunjukkan hubungan, kondisi, atau keadaan sesuatu, bukan aktivitas yang sedang dilakukan. Kata kerja ini menjelaskan ciri, hubungan, isi, atau komposisi sesuatu.
Contohnya:
- seem = terlihat atau tampak
- appear = tampak
- belong = menjadi milik
- contain = mengandung
- include = mencakup
- consist = terdiri dari
Contoh:
- She seems tired.
(Dia terlihat lelah.)
- The box contains some books.
(Kotak tersebut berisi beberapa buku.)
- The price includes tax.
(Harga tersebut sudah termasuk pajak.)
Kata-kata tersebut menunjukkan keadaan atau hubungan, bukan aktivitas yang sedang dilakukan.
Baca juga: Singular dan Plural Nouns Bahasa Inggris dan Contohnya
Contoh Stative Verb dalam Kalimat
Berikut beberapa contoh stative verb yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari:
- I know the answer.
(Saya tahu jawabannya.) - She likes English.
(Dia menyukai Bahasa Inggris.) - They believe you.
(Mereka percaya kepadamu.) - He wants a new computer.
(Dia menginginkan komputer baru.) - I need some water.
(Saya membutuhkan air.) - This bag belongs to me.
(Tas ini milik saya.) - She has two brothers.
(Dia memiliki dua saudara laki-laki.) - I understand the question.
(Saya memahami pertanyaannya.) - This food tastes delicious.
(Makanan ini terasa lezat.) - He seems tired.
(Dia terlihat lelah.)
Dari contoh-contoh tersebut, dapat dilihat bahwa stative verb lebih banyak digunakan untuk menggambarkan kondisi, perasaan, pikiran, pengetahuan, atau kepemilikan.
Baca juga: Ketahui Huruf Vokal dan Konsonan dalam Bahasa Inggris
Sudah Paham Apa Itu Stative Verb dalam Bahasa Inggris?
Stative verb adalah kata kerja yang digunakan untuk menunjukkan keadaan, perasaan, pikiran, pengetahuan, kepemilikan, atau kondisi tertentu. Berbeda dengan action verb yang menunjukkan aktivitas, stative verb lebih menggambarkan sesuatu yang dirasakan, dipikirkan, diketahui, atau dimiliki.
Namun, perlu diingat bahwa beberapa verb seperti think, have, see, dan feel dapat berfungsi sebagai stative verb maupun action verb, tergantung pada makna dan konteks kalimatnya.
Dengan memahami jenis, fungsi, dan contoh penggunaannya, kamu akan lebih mudah mengenali stative verb dan menggunakannya dengan tepat. Jangan hanya menghafalkan daftar katanya, tetapi coba perhatikan makna dan konteks setiap verb saat digunakan dalam kalimat. Dengan begitu, kamu akan semakin terbiasa membuat kalimat Bahasa Inggris yang benar dan terdengar lebih natural.
Belajar Bahasa Inggris Makin Mudah Bersama English 1
Belajar Bahasa Inggris akan lebih optimal jika dimulai dari level yang tepat. Kursus Bahasa Inggris English 1 menghadirkan program bertahap yang dirancang sesuai usia dan kemampuan anak, mulai dari pengenalan dasar hingga kesiapan akademik dan global. Kini, orang tua dapat mencoba langsung kelas English 1 melalui free trial gratis sebelum memilih program yang paling sesuai.
- Small Stars (3–6 tahun): membangun rasa percaya diri berbahasa Inggris sejak dini melalui aktivitas fun dan interaktif.
- High Flyers (7–9 tahun): memperkuat fondasi membaca, menulis, dan berbicara secara bertahap.
- Trailblazers (10–14 tahun): mengembangkan komunikasi aktif dan pemahaman akademik.
- Frontrunner (15–18 tahun): program lanjutan untuk kesiapan sekolah, ujian, dan masa depan global.
Daftar sekarang dan ikuti kelas free trial English 1 untuk menemukan level belajar yang paling tepat.
